Jumlah Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Kolaka Utara Meningkat

Jumlah Kekerasan dan Pelecehan Seksual Kabupaten Kolaka Utara terus meningkat selama pandemi covid-19, tercatat tahun 2020 ada 14 kasus kekerasan dan pelecehan seksual terjadi, sementara tahun 2021 sampai bulan Juli sudah mencapai 7 Kasus.

Dijelaskan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Dinas P3A apt,Harvey, S,Si,M,Farm bahwa tingkat kekerasan dan Pelecehan Seksual terhadap anak mengalami peningkatan bahwa hampir setiap bulan terjadi kasus yang sama.” Kalau kekerasan dan pelecehan seksual tahun 2020 14 kasus, untuk tahun ada 7, dan tahun ini sangat keras karena melibatkan orang tua langsung, kalau tahun sebelumnya famili lain, tapi sekarang kejadian terjadi hampir setiap bulan ada,”Katanya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Dinas P3A Harvey

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pihaknya saat ini memiliki dua program untuk pencegahan dan pelindungan,” untuk Agustus mendatang kami akan bentuk satgas dia dalam bentuk penanganan kasus, Sementara untuk aktivis Perlindungan Terpadu Berbasis Masyarakat (PTBM) nah inilah yang akan mengolah anak,”Tuturnya.

Dia menambahkan bahwa dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00 anak disekolah, Sementara pukul 12.00-14.00 anak dirumah, tetapi dari pukul 14.00-17.00 anak bermain, ” Saat anak bermain inilah akan di isi ruang-ruang bermain di desa dan melihat kondisi anak, jika anak murung akan di lakukan pendekatan, untuk mengetahui masalahnya dan nantinya akan berkoordinasi dengan satgas desa,”tuturnya.

Diapun berharap dalam waktu dekat segera dibangun rumah singgah untuk para korban, karena selama ini korban hanya dititip diruma staf DP3A.”Pembangunan rumah singgah yang paling urgen saat ini, karena beberapa kasus ini korban diamankan dan kita titip di rumah ibu nining, ibu kasna karena korban berasal dari luar kecamatan Lasusua tidak punya keluarga disini, jadi harapan kami semoga ada perhatian untuk penambahan anggaran rumah singgah itu, karena proses BAP itu berulang-ulang, kasian mereka tidak punya tempat tinggal,”Tandasnya. (L)

Komentar