31.7 C
Kendari
Jumat, 19 April 2024

Kasus Stunting  di Kolaka Utara dalam Tiga Tahun Terakhir Mengalami Penurunan

Penting Dibaca
Kominfo
Kominfohttps://kolutkab.go.id/
Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Kabupaten Kolaka Utara

Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) berhasil mencatat penurunan kasus stunting pada balita dalam rentang tiga tahun terakhir. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolut memberikan penghargaan kepada semua pihak yang turut serta dalam upaya penanganan masalah kesehatan ini, yang menghasilkan penurunan signifikan angka kasus stunting.

Menurut Asisten I Pemkab Kolut, Mukhlis Bachtiar, penurunan tersebut merupakan hasil dari kerja keras dan kerjasama semua pihak terkait. “Hari ini kita memanen hasil kerja kita. Jika pada 2021 tercatat 559 kasus stunting, angka ini turun menjadi 458 pada 2022, dan terus menyusut menjadi 271 pada 2023,” ungkap Mukhlis saat membuka kegiatan diseminasi pengukuran dan publikasi data stunting di Lasusua pada Kamis (21/12/2023).

Meskipun terjadi penurunan yang signifikan, penting untuk tetap menjaga kewaspadaan dan konsistensi dalam tindakan pencegahan guna mencegah timbulnya kasus stunting baru pada balita lainnya. Upaya edukasi kepada setiap keluarga diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam meminimalisir kemungkinan terjadinya stunting.

Mukhlis juga menekankan perlunya pendekatan yang merata, tidak hanya fokus pada keluarga berpenghasilan rendah. Dia menyatakan, “Jangan hanya fokus pada keluarga berpenghasilan rendah karena faktanya di Kecamatan Kodeoha dijumpai balita stunting meski tergolong dari kalangan orang mampu.”Katanya.

Data menunjukkan bahwa ada tiga kecamatan dengan penurunan prevalensi stunting yang signifikan, seperti Pakue dari 17,8 persen pada 2021 menjadi 2,08 persen pada 2023, Porehu dari 11,9 persen (2022) menjadi 1,13 persen, dan Kecamatan Watunohu dari 114 persen pada 2022 menjadi 7,5 persen saat ini.

Namun demikian, terdapat dua kecamatan yang justru mengalami kenaikan prevalensi stunting, yaitu Tolala sebesar 7,14 persen dan Kodeoha 7,14 persen pada saat ini.

Selain kurangnya asupan gizi, beberapa faktor lain yang menjadi determinan stunting pada balita usia 0-59 bulan di wilayah ini adalah kebiasaan merokok di sekitar mereka, ketiadaan kartu kepesertaan JKN, ibu hamil yang mengalami KEK, masalah sanitasi, penyakit penyerta, cacingan, dan ketersediaan air bersih.

Mukhlis menegaskan bahwa upaya edukasi secara berkelanjutan kepada masyarakat sangatlah penting. “Hal semacam ini butuh pemahaman masyarakat melalui pemberian edukasi yang berkesinambungan. Kami senang melihat hasil positif dari kerja keras kita semua, namun perlu dipertahankan hingga tahun-tahun mendatang,” tambahnya.

Berdasarkan data, pada tahun 2021 terdapat 559 kasus stunting atau sebesar 8,78 persen dari total 6.370 balita yang diukur dari jumlah total 10.955 balita. Melalui upaya penanganan, angka ini berhasil diturunkan menjadi 458 kasus atau 5,56 persen pada tahun 2022. Sementara pada 2023, tercatat 271 kasus atau 3,25 persen dari total balita yang diukur. Ini menunjukkan adanya penurunan yang signifikan namun masih memerlukan perhatian serta langkah-langkah preventif lebih lanjut guna menekan angka kasus stunting pada balita di masa mendatang.

- Advertisement -spot_img

Tinggalkan Komentar

- Advertisement -spot_img
Berita Terbaru

Kolaka Utara Raih Dua Penghargaan  dalam Musrembang Provinsi Sulawesi Tenggara

Kamis (18/4) di Kota Kendari digelar pelaksanaan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) tingkat provinsi Sulawesi Tenggara. Acara  tersebut  untuk merumuskan...
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img